Hmm… apa ya, bingung. Mungkin ini cuma saya yang terlalu perasa, jadi pas kecewa rasanya dalam banget. Masih nggak belajar dari pengalaman, ditolak berkali-kali ternyata nggak membuat saya kebal juga yah😂
"Nggak semua perhatian, effort, dan niat baik bisa diterima, untung masih ada abang driver yang mau terima jajanan dan obat dari saya hehe."
Pernah baca: "salah paham yang memalukan adalah ketika kita mengira sedang diperjuangkan" , awalnya saya pikir itu cuma kalimat biasa aja, tapi sekarang saya ngerti rasanya. Saya selalu berusaha mendahulukan, dan menyenangkan orang yang saya sayang. Rasanya menyenangkan sekali kalau setiap usaha—sekecil apapun—bisa diterima dengan senang. Tanpa adanya penolakan. Tanpa “nggak usah repot-repot” yang diulang berkali-kali sampai akhirnya bikin males dan merasa nggak berguna untuk memberi lagi. Bahkan ke siapapun.
Notes: Mungkin boleh kali ya, suatu saat kalau ada seseorang yang mau menyenangkan orang lain, coba sesekali langsung terima. Bukan karena hadiahnya, tapi karena itu cara dia membahagiakan dirinya sendiri—dengan melihat orang itu mau menerima pemberiannya. Atau sebenarnya ini emang soal nggak pernah suka pemberian dari saya aja?
Comments
Post a Comment