Cerita Realistis.

Pagi itu, jam dua dini hari, saya terbangun tanpa alasan.
Mata belum ingin terpejam, jadi saya iseng membuka media sosial.
Dan menemukan fakta, sepertinya semesta ingin menunjukkan sesuatu yang disembunyikan dari saya.
Saya menemukannya sedang bermain di laut, tampak begitu lepas dan bahagia.
Entah kenapa, satu pertanyaan muncul begitu saja:
"Dia pergi sama siapa, ya?"

Tangan ini menggulir layar, dan di antara sekian banyak unggahan, saya menemukan jawabannya.
Bukan dari dia.
Tapi dari seseorang lain yang mengunggah video dengan sudut pandang yang sama.
Rasanya? Bukan marah, tapi lebih ke cemburu yang diam-diam menyesakkan.
"Kok bisa, perempuan itu dapet tempat yang nggak pernah saya injak?
Bersamanya di perjalanan.
Bersamanya di tawa.
Bersamanya dalam sebuah kenang-kenangan yang dibungkus rapi dalam video."
Sementara saya? Bahkan tak pernah punya satu detik pun yang diabadikan.

Pagi itu terasa seperti naik roller coaster…
Tapi tiba-tiba sabuk pengamannya lepas.
Dan alih-alih mati seketika, saya justru hidup dengan luka di mana-mana.
Bukan patah hati yang membunuh,
Tapi harapan-harapan kecil yang saya pupuk sendiri, saya sirami, saya ajak ngobrol, dan..
Ternyata mekarnya memang nggak pernah untuk saya.

Saya hampir mengirim pesan.
Hampir meluapkan semuanya.
Tapi suara Ibu keburu memecah keheningan.
"Tenang. Semua akan baik-baik saja. Jangan lampiaskan kecewamu ke dia. Sejauh ini dia sudah cukup baik.
Coba ingat-ingat kamu pernah salah atau menyakitinya?"

Untukmu, perempuan yang ada di video itu.
Kamu beruntung.
Kamu nggak perlu mencari-cari alasan untuk menghabiskan waktu dengannya.
Kamu nggak perlu menunggu lama agar dia mengajakmu masuk ke dunianya.
Dan bahkan sampai detik ini, kamu masih jadi prioritasnya.
Selamat ya, kamu yang akan selalu dipilih untuk diperjuangkan.

7 Januari 2025.
Notes: Yang nggak akan pernah dia tau, tulisan saya dibuku dino bersama video mereka di kapal.
Lagu Taylor Swift - Exile.


Comments